logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ritual yang meriah dan menjadi daya tarik wisatawan

Ritual yang meriah dan menjadi daya tarik wisatawan

Wisata Lombok, Nusa Tenggara Barat tidak melulu berhubungan dengan pura dan pantai. Ada pawai ogoh-ogoh yang setiap Hari Raya Nyepi selalu

Pemerintahan

Putri Mandalika
Oleh Putri Mandalika
17 Desember, 2013 18:49:51
Pemerintahan
Komentar: 0
Dibaca: 4029 Kali

Wisata Lombok, Nusa Tenggara Barat tidak melulu berhubungan dengan pura dan pantai. Ada pawai ogoh-ogoh yang setiap Hari Raya Nyepi selalu digelar. Berawal sebagai sebuah ritual keagamaan, kini pawai ogoh-ogoh juga menjadi daya tarik wisata.

Kendati Hindu bukanlah agama mayoritas di Lombok, namun bukan berarti nafas religinya sama sekali tidak ada. Warga Hindu sudah hidup dan mengakar di Lombok, termasuk mereka yang berasal dari Bali. Ya, etnis Bali memang sudah lama mendiami Lombok secara turun temurun. Berbagai kebudayaan dan tradisi masyarakat Bali hidup dan berdampingan dengan kebudayaan dan tradisi asli masyarakat Lombok. Sedikitnya dari 500 ribu penduduk kota Mataram, 30 persen diantaranya adalah umat Hindu. Itu mengapa setiap sehari sebelum Nyepi atau peringatan tahun baru Saka 1730 dilaksanakan pawai ogoh-ogoh mengundang perhatian dari seluruh warga, khususnya kota Mataram yang justru mayoritas penduduknya beragama Islam.

Makna dari ogoh-ogoh adalah patung yang melambangkan Buta Kala yang diharapkan dapat menetralisir roh-roh jahat yang menguasai alam manusia antara kebaikan dan keburukan yang bisa disebut dengan “balance of the world”. Macam-macam ogoh-ogoh Buta Kala yang biasa dibuat oleh masyarakat adalah Kala Bang, Kala Ijo, Kala Dengen, Kala Lampah, Kala Ireng dan beberapa bentuk lainnya sebagai perlambang sifat-sifat negatif yang harus dilebur agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Ogoh-ogoh Buta Kala yang diciptakan kemudian dihaturkan sesaji “natab caru pabiakalan” yakni sebuah ritual yang bermakna “nyomia”, mengembalikan sifat-sifat Buta Kala ke asalnya. Ritual itu dilanjutkan dengan prosesi pawai. Seluruh masyarakat bersama-sama mengusung ogoh-ogoh mengelilingi jalan-jalan desa dan mengitari catus para sebagai simbol siklus sakral perputaran waktu menuju ke pergantian tahun Caka yang baru. Setelah itu, ogoh-ogoh dilebur atau dibakar. Prosesi ogoh-ogoh merupakan serangkaian dengan upacara Tawur Kesanga.

 

Baca Juga :


Pada 2011 lalu, pawai ogoh-ogoh diikuti oleh 150 ogoh-ogoh yang berasal dari 108 koordinator ogoh-ogoh yang ada di seluruh kota Mataram. Arak-arakan dimulai dari Cakranegara yang merupakan pusat bisnis kota Mataram. Ogoh-ogoh yang dibuat menyeramkan itu sudah siap di Jalan Pejanggik. Usai sholat Jumat, hingar bingar gamelan ditabuh. Ribuan warga Mataram tumpah ruah di sisi jalan Pejanggik dan jalan Langko, sepanjang 11 kilometer yang menjadi alur arak-arakan. Pada tahun 2012 ini tepatnya pada 22 Maret, pawai ogoh-ogoh disemarakkan dengan 115 ogoh-ogoh. Peserta pawai berasal dari kota Mataram dan beberapa daerah di Lombok Barat seperti Narmada, Gunung Sari, Gerung, Sekotong dan Lingsar. Sama halnya dengan pawai di tahun sebelumnya, ritual ini diramaikan oleh ribuan masyarakat yang menyemut di sepanjang jalan Selaparang Cakranegara. Wisatawan asing yang kebetulan sedang berwisata ke Lombok pun tak kalah antusias dengan warga yang berdesak-desakan melihat pawai setahun sekali ini.



 
Putri Mandalika

Putri Mandalika

singer-songwriter, guitarist, actress, and artist. frontwoman of alternative rock band CakraCountry,

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan