logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sosialisasi Perubahan Iklim

Sosialisasi Perubahan Iklim

Perubahan iklim pada saat ini merupakan fenomena alam yang terjadi secara berubah-ubah dan perlu diwaspadai. Karena dampaknya sangat berpengaruh bagi kehidupan

Pemerintahan

Syamsul Riyadi
Oleh Syamsul Riyadi
18 Juli, 2017 12:38:43
Pemerintahan
Komentar: 0
Dibaca: 2534 Kali

Perubahan iklim pada saat ini merupakan fenomena alam yang terjadi secara berubah-ubah dan perlu diwaspadai. Karena dampaknya sangat berpengaruh bagi kehidupan yang ada dimuka bumi. Oleh karena itu, dilakukan upaya sosialisasi perubahan iklim kepada  50 penyuluh se Pulau Lombok  akan perubahan dalam menjaga dan melestarikan yang disebabkan oleh perubahan iklim saat ini di Aula Balai Penyuluhan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dan Perkebunan Prov. NTB beberapa hari lalu. (13/07/2017).

Dalam pertemuan sosialisasi yang di buka langsung oleh Kepala Biro Ekonomi Setda Prov. NTB “Dr. Ir. H. Manggaukang, MM” menjelaskan bahhwa perubahan iklim yang terjadi sangat signifikan dalam waktu tertentu ini. Dapat dilihat pada beberapa daerah ada daerah  banjir, kekeringan/kemarau. Dan saat ini di daerah NTB sebagaian besar paginya dingin dan siang panas dengan perubahan iklim yang berubah-ubah. Menyebabkan keganggunan ekosistem kehidupan bukan hanya manusia tetapi juga tumbuhan dan hewan khususnya berupa pertanian masyarakat dilapangan akan pola tanam yang baik dan cocok.

Perubahan iklim yang tidak menentu menyebabkan perubahan suhu yang dratis, curah hujan, pola angin, awan kelembaban udara dan sebagainya menrupakn factor dalam perubahan iklim dan cuaca.

Dijelaskan juga bahwa bukan hanya fenomena alam tetapi juga akan tingkah laku manusia seperti penebangan hutan secara liar, pemanasan global/efek rumah kaca (pembakaran CO2) dalam perusahaan/industry dan lain-lain ungkapnya.

Penyuluh sebagai garda terdepan dalam memberikan penyuluhan berupa informasi dan teknologi kepada petani khususnya akan perubahan ilkim berpengaruh pada pola tanam pertanian dalam mengubah perilaku sikap dan ktrampilan petani dilapangan

Selain itu, dijelaskan oleh Kepala BMKG Staklim Kelas I Lombok Barat “Ir. Wakodim”, dampak akan perubahan iklim yang disebaakan oleh terjadinya el nino dan el nina dapat mengancam kehidupan manusia seperti rusaknya infrastrukur sarana prasarana pertanian, menyebabkan wadah penyakit dan hama baik manusia/pertanian arti luas, bencana alam kekeringan/banjir sampai dengan akan memberikan pengaruh pada harga pangan semakin meningkat/mahal.

Misalkan perubahan iklim, dibidnag pertanian dan peternakan penggunaan pupuk penyubur nitrogen ke dalam tanah. Dimana beberapa dari nitrogen tersebut berubah menjadi Nitro Oksida (N2O) - gas rumah kaca yang sangat kuat. Dipertenakan sapi menciptakan gas methan saat rumput mengalami peragian di perut mereka dan masih banyak lainnya seperti pengeluaran gas dari kendahraan/alat trasportasi, perusahaan/industry, penggunaan lemari es/ acc dan sebagainya menyebabkan terjadinya pemanasan gobal.

 

Baca Juga :


Sedangkan menurut Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Prov. NTB “Ir. Hj. Uliyati Ali, M.Si” kaitannya dengan perubahan iklim bagi penyuluh sangat baik dan bermanfaat akan peningkatan produktivitas dalam pencapaian target produksi padi, jagung, kedelai, kacang tanah/hijau, bawang merah, cabe, tebu dan ternak. Karena untuk saat ini target produksi dalam program upsus pajale untuk NTB meningkat. Sehingga peran serta penyuluh dalam mendampingi program kegiatan sangat dibutuhkan mendukung program swasembada pangan nasional.

Ditambahkan uga bahwa Prov. NTB telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai salah satu provinsi lumbung pangan nasional. Dengan potensi sumberdaya lahan pertanian yang cukup luas, baik berupa lahan sawah dan bukan sawah yaitu seluas 256.229 hektar ungkapnya.

Luas baku lahan sawah di Provinsi Nusa Tenggara Barat seluas 256.229 ha, diasumsikan luas pemanfaatannya adalah tiga kali luas lahan sawah baku yaitu sekitar 777.687 ha, yang dimanfaatkan untuk penanaman padi dan palawija, sehingga lahan sawah memiliki pemanfaatan yang sudah maksimum. Fakta tersebut memberikan makna bahwa peluang penambahan areal jagung pada  lahan sawah sudah tidak memungkinkan lagi dan sebagai alternatifnya adalah melalui peningkatan pemanfaatan lahan bukan sawah.

Untuk rencana pengembangan jagung tahun 2017 seluas 400.000 hektar di NTB, akan dikembangkan di lahan sawah seluas 215.553 hektar dan lahan bukan sawah seluas 185.000 hektar yang difokuskan di Pulau Sumbawa karena memiliki potensi lahan bukan sawah yang cukup luas bila dibandingkan dengan Pulau Lombok yang terdistribusi di 5 kabupaten/kota di Pulau Sumbawa yaitu Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima tegasnya []



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan