logoblog

Cari

Lunyuk Yang Bersahaja Dan Aspirasi Yang Sederhana

Lunyuk Yang Bersahaja Dan Aspirasi Yang Sederhana

Dana pembangunan satu triliun rupiah bagi Sumbawa mulai dipenuhi Gubernur Zulkifliemansyah. Tak menunggu lama visi NTB Tangguh dan Mantap untuk memastikan

Pemerintahan

suryadi jamie
Oleh suryadi jamie
08 April, 2019 21:44:54
Pemerintahan
Komentar: 0
Dibaca: 2924 Kali

Dana pembangunan satu triliun rupiah bagi Sumbawa mulai dipenuhi Gubernur Zulkifliemansyah. Tak menunggu lama visi NTB Tangguh dan Mantap untuk memastikan infrastruktur jalan, jembatan dan bendungan, terawat dengan baik dan memberi manfaat. Bendungan Plara, Lunyuk yang dibangun pada 1996 dan beroperasi pada 1998 itu butuh perawatan agar kembali normal. Sangat strategis mengairi 2500 Ha karena Bendungan Plara merupakan satu-satunya bendungan di kabupaten Sumbawa Besar bagian selatan yang dibangun di sungai terpanjang di Nusa Tenggara Barat.

Bendungan ini dapat dikatakan jantung perekonomian kecamatan Lunyuk. Ia mengairi hampir seluruh persawahan yang ada di kecamatan itu setiap tahunnya.  Siang kemarin, Senin (08/04), Gubernur NTB mendengar langsung aspirasi warga masyarakat di Lunyuk.

Sudah 23 tahun digunakan, Bendungan Plara selain untuk irigasi pertanian juga digunakan untuk budidaya perikanan air tawar serta menjadi obyek wisata di Kecamatan Lunyuk. Ada 21.062 ribu jiwa penduduk kecamatan ini dan sebagian besar mereka adalah petani. Bendungan yang memang sangat potensial. Tak salah bila warga masyarakat “mendesak” Gubernur agar segera menyelesaikan masalah sedimentasi atau pendangkalan aliran yang mulai dirasakan mengganggu produktivitas.

Fungsi irigasi bendungan ini telah berkurang banyak hingga upaya pengerukan sedimentasi dapat segera dikerjakan agar debit air bisa kembali normal sesuai kapasitasnya. Terutama untuk menggenjot produksi pertanian di Kecamatan Lunyuk. Sedimentasi harus dikeruk diangkat, pintu air diperbaiki, saluran sekunder tersier kiri kanan dan tengah bendungan diperbaiki.

Tak berlebihan jika warga masyarakat Lunyuk pertengahan Februari lalu datang ke Pendopo Gubernur NTB. Para Camat dan kepala desa itu menemui Gubernur untuk menyampaikan keinginan agar pemerintah mengatasi sedimentasi Bendungan Plara selain longsoran yang kerap terjadi akibat rapuhnya tebing pengaman jalan, penanganan jalan provinsi, dan memperbaiki jembatan yang putus menuju lingkar selatan hingga menjadikan lokasi bumi perkemahan Lunyuk sebagai lokasi bumi perkemahan terpadu. “Pemanfaatannya bisa dikelola masyarakat setempat misalnya menjadi obyek wisata,” ungkap Sekretaris Camat Lunyuk, Sudirman, S.Sos saat pertemuan itu.

Untuk potensi wisata banyak hal yang bisa di lakukan dan belum digarap seperti wisata memancing, arum jeram ataupun panjat tebing karena di samping bendungan ini terdapat tebing batu yang cukup tinggi untuk wisata olahraga.

Upaya pertemuan dinilai penting dilakukan warga masyarakat setelah upaya swadaya mengatasi persoalan sedimentasi telah dilakukan maksimal. Salah satunya dengan membangkitkan semangat gotong-royong bersama TNI seperti yang dlakukan Danramil 1607-07/Lunyuk Kapten Inf I Wayan Suledra. Bersama anggota Koramil 0607/07/ Lunyuk, masyarakat bahu membahu membersihkan aliran sungai yang tertutup sampah dan rumput di berbagai lokasi pada setiap hari Minggu. Alasan lain karena sebab salah satu tugas pemimpin adalah melayani masyarakat. Termasuk mendengar dan menerima segala permasalahan masyarakat untuk diselesaikan.

Gubernur Zulkieflimansyah dalam pertemuan tersebut langsung merespon baik keinginan mesyarakat. “Dengan cepat merespon maka kita bisa mencarikan solusinya,” ungkap Gubernur yang dalam pertemuan saat itu didampingi Kepala Dinas PU, Kepala Dinas Pertanian dan Kepala BWS Provinsi NTB.

 

Baca Juga :


Para kepala desa yang hadir, di antaranya Kades Lunyuk Rea, Andre Pratama, Kades Lunyuk Ode, Hermansyah, Kades Jamu Masharuddin, Kades Empang Deni Murdani, Kades Suka Maju, Komang Suwandia. Mereka didampingi tokoh Sumbawa, Sambirang Ahmadi S.Ag., M.Si.

Gubernur pun datang menemui langsung warga masyarakat. Banyak ragam di Lunyuk. Di sini kerukunan bisa sangat terjaga. Alamnya pun cukup terjaga. Kesahajaan Lunyuk sesungguhnya kesederhaan ber NTB. Disini suku, bahasa dan agama berpadu. Harmonis berpadu dengan alam yang lestari.
Kecamatan Lunyuk adalah salah satu dari 24 kecamatan di Kabupaten Sumbawa, yang terletak di ujung selatan Pulau Sumbawa, serta berbatasan dengan Samudera Indonesia. Posisinya memanjang dari arah utara ke selatan, dengan ketinggian antara 10 hingga 50 meter di bawah permukaan laut. Jarak Kecamatan Lunyuk dari Kota Sumbawa adalah sekitar 90 kilometer.

Penduduk Lunyuk terdiri dari beragam suku pendatang, seperti Bali, Lombok, Jawa, dan warga Tionghoa. Mereka hidup berkelompok sesuai sukunya masing-masing. Ada perkampungan yang dihuni oleh orang-orang perantauan dari Bali yang berasal dari macam-macam wilayah di Bali, dan mereka mendirikan sebuah Pura yang megah.

Mata pencaharian mayoritas penduduk Lunyuk adalah bertani dan berdagang. Lahannya yang amat subur menjadikan Lunyuk sebagai penyuplai utama hasil bumi di Kabupaten Sumbawa. Selain itu, keuletan para transmigran dalam mengelola tanah dan bekerja turut mendukung perekonomian di Lunyuk, sehingga masyarakatnya cukup sejahtera.

Oleh sebab itu, tak hanya tentang sedimentasi saluran irigasi Bendungan Plara. Persoalan lain seperti hutan dan buruh jagung yang harus disiasati teknologi, sarana memadai untuk 200 lebih tahfiz di Lunyuk, bantuan sepeda motor untuk penyuluh dan tambahan penyuluh pertanian menjadi aspirasi warga Lunyuk. Persoalan dilematis antara jagung dan merambah hutan. Penghijauan kembali beberapa gunung yang gundul agar tidak kontributif pada tertutupnya saluran irigasi, dijawab tuntas Gubernur NTB. Beliau kemudian membagi porsi sesuai kewenangan provinsi dan kabupaten dalam menangani seluruh masalah yang diungkapkan warga masyarakat.

Pertemuan Gubernur Zulkieflimansyah dan warganya berlangsung elegan, sejuk dan berselera keindonesiaan yang kuat dengan keragaman warganya. Dikelilingi gunung, gemercik air sungai Brang Beh dan hamparan alam meniupkan angin sepoi-sepoi walau terik matahari menyapu kulit. Di Lunyuk, ada juga Pantai pasir putih Padasuka. Pantai yang memiliki hamparan pasir putih memanjang yang menawan ini belum cukup digarap. Elang terbang lalu-lalang di sekitar hutan dan pantainya merupakan tempat penyu-penyu bertelur. Alhamdulillah, kebiasaan menyapa warga dusun dan desa terus berlanjut menuju desa berikutnya. (jm timedia – diolah dari beranda FB An Najm).



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan