Bupati Bima : Hati-Hati Menggunakan Uang!

Pemerintah Daerah Kabupaten Bima, hari ini Selasa (24/12) menyelenggarakan rapat koordianasi dalam rangka pembinaan aparatur desa se-Kabupaten Bima. Rapat yang mengambil tempat di Paruga Na’e Paranaka Woha tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan surat edaran menteri yang memuat tentang Undang-Undang Desa yang pada 18 Desember lalu telah disahkan oleh DPR Pusat.
 
Dalam sesi pembahasan, di depan segenap undangan rapat yang terdiri dari Kepala Desa (Kades), Sekdes, dan Kaur desa se-Kabupaten Bima tersebut. Bupati Bima, H. Ferry Zulkarnain ST memberikan penekanan yang lebih pada item yang menohok masalah anggaran. Karena menurutnya item ini lebih sensitif, dan rata-rata pejabat sering terjebak oleh masalah anggaran.
 

Berdasarkan UU baru ini, ke depannya menurut Ferry, Seorang Kades akan menjadi Pejabat Pengelola Anggaran. Konsekuensinya adalah tiap kades seharusnya mahir di bidang accounting. Tapi karena kenyataan yang bertolak belakang, maka Kades akan membutuhkan seorang fasilitator yang akan mendampinginya terkait masalah manajemen keuangan. Fasilitator tersebut akan digaji dari dana APBN.
 
Tentang besarnya alokasi anggaran yang akan digelontorkan untuk tiap desa, Ferry menyebutkan 10 % dari APBN akan dialirkan langsung ke desa. Alokasi anggaran tersebut didasarkan pada luas, jumlah penduduk, dan jumlah orang miskin di desa bersangkutan. Dari data kewilayahan yang ada, Ferry memperkirakan tiap desa di Kabupaten Bima akan menerima nominal sekitar 850 juta per tahunnya. Dengan model pengelolaan menyerupai PNPM.
 
Jumlah yang tidak sedikit menurut Ferry. Maka itu ia mewanti-wanti kepada para Kades agar berhati-hati dalam mengelola anggaran tersebut. “Jangan tergiur dengan uang besar. Hati-Hati menggunakan uang (Negara, red)!” Tegas Ferry. “Tidak ada seorang bupatipun yang tidak sayang dengan kadesnya. Saya tidak ingin melihat Kades saya masuk penjara,” imbuhnya disambut aplaus peserta rapat.
 
Sayangnya Rapat yang dimulai Pukul 9.00 ini sempat diwarnai kericuhan selama sekitar 10 menit. Di mana Kaur Desa Ntonggu dengan Sekdes Ngali terlibat perkelahian. Berdasarkan keterangan beberapa orang di dekat kejadian. Adu jotos berawal ketika Sekdes Ngali merasa kehilangan uangnya di tengah acara, dan ia ngotot bahwa Kaur Ntonggu yang mengambilnya. Kaur yang tidak diterima dituduh langsung melayangkan tinju ke muka Sekdes. Tak ayal, merekapun saling pukul sampai akhirnya dilerai orang banyak.
 
Di akhir acara, Ferry memanfaatkan Rapat untuk memberikan hadiah motor secara simbolik kepada 44 Kades yang dinilai berprestasi, karena besarnya kontribusi pajak yang mereka setorkan kepada daerah. (Adn)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru