Harapan Masyarakat Kepada Bupati Bima Pasca Pelantikan

KM LENGGEWAWO,- Setelah Bupati Bima, Drs H Syafrudin HM Nor, M.Pd, dilantik oleh Gubernur NTB, H Zainul Majdi, MA, terkuak beberapa keinginan dan harapan warga kepada bupati Bima yang dilantik di Paruga Nae Bolo, Rabu (19/2) beberapa waktu yang lalu.

 Apa saja harapan dan keinginan masyarakat itu? Beberapa siswa kelas X SMAN 1 Bolo, Fitratul Aqidah, bahagia dan bangga orang Bolo bisa menjadi orang nomor satu di Kabupaten Bima, mudah-mudahan setelah dilantik kinerja bupati Bima lebih baik lagi pengabdiannya kepada masyarakat.

Bukan hanya itu, katanya, perhatikan juga pendidikan karena basis pembinaan generasi ada pendidikan yang lebih baik dan lebih maju. Karena itu ditingkatkan lagi peralatan di sekolah, terutama meja dan bangku yang sudah banyak yang rusak, penambahan multi media.

“Saat ini di sekolah kami sudah banyak yang rusak dan belum mencukupi kebutuhan siswa yang banyak,” ujarnya di sekolah setempat, Rabu.

Hal senada dikemukakan siswa lain, Ainun Mardiah dan Nashatun Jumiarti. Perhatian terhadap peningkatan kualitas pendidikan jangan hanya pada saat kegiatan politik, tetapi memang pendidikan itu harus dinomorsatukan. Apalagi, di SMAN 1 Bolo kerap meraih prestasi terbaik di Kabupaten Bima, di Provinsi NTB, bahkan tingkan nasional, tetapi prestasi yang diraih siswa belum menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Lain halnya dengan warga Kecamatan Madapangga, Mustafa. Hal yang terpenting diperhatikan bupati Bima adalah membersihkan orang atau pejabat yang tidak pro-rakyat, terutama indikasi permainan kelulusan pada CPNS Honorarium K2 yang diumumkan belum lama ini. Permainan uang atau sogok menyogok bukan rahasia umum lagi dengan nilai permainan sekitar Rp30 juta hingga Rp60 juta lebih.

“Kalau begini caranya, jangan harap masyarakat miskin bisa menjadi PNS karena yang tidak punya uang tidak akan lolos,” ujar Ketua PPK Madapangga ini, usai pelantikan di Paruga Nae Bolo, Rabu.

Hal yang sama dikemukakan pegawai honorer di Kecamatan Wawo yang meminta jangan ditulis namanya. Indikasi kecurangan itu banyak, seperti pada kantor UPT Dinas Dikpora Kecamatan Wawo baru beberapa bulan nongol di kantor dan lulus pada CPNS Honorarium K2. Sementara yang mengabdi sekian lama masih belum juga diakomodir.

“Katanya prioritaskan terlebih yang lama mengabdi, tetapi buktinya orang baru mengabdi beberapa bulan lulus. Ini pasti ada apa-apanya,” kata sumber yang tidak ingin dikorankan namanya.

Begitu juga dengan guru, katanya, selama ini tidak pernah mengajar dan lebih suka menjaga kios, kini lulus CPNS honorer K2. Honorer yang betul-betul mengabdi justru tidak lulus. Demikian juga dengan UPT Dinas Peternakan, sudah bertahun tahun tidak masuk kantor karena mengikuti suami di Jakarta, datang hanya ikut ujian dan lulus.

“Jelas ini tidak fair dan menciderai rasa keadilan bagi yang honorer yang lama mengabdi,” katanya. Sebagai masyarakat, katanya, bupati Bima jika ingin mendapatkan restu dari rakyat maka berlaku adillah dalam segala hal dan jangan menciderainya.(AJI/03)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru