HUT KORPRI dalam Balutan Kesederhanaan

JAKARTA – Batik berwarna biru mendominasi lapangan silang monas, sejak sekitar jam 6 pagi, Senin (01/12). Betapa tidak, sekitar 15.000 pegawai negeri sipil (PNS) yang berseragam KORPRI memadati lapangan di sekitar tugu tertinggi di tanah air itu.

Mereka berasal dari berbagai kementerian/ lembaga serta dari Pemprov DKI Jakarta untuk menghadiri upacara peringatan HUT Ke-43 KORPRI yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo, dan Menteri PANRB Yuddy Chrisnandi sebagai Komandan Upacara.

Tidak sedikit PNS yang terpaksa tidak bisa masuk ke arena upacara, lantaran terlambat. Tetapi mereka tetap mengikuti upacara, dan menyimak sambutan dari sang Presiden. Ada yang melalui siaran langsung radio, ada yang berada di dekat mobil crew TVRI dan lain-lain.  Tidak sedikit anggota KORPRI di segenap penjuru daerah juga mengikuti upacara ini, baik dengan upacara sendiri maupun mengikuti melalui siaran langsung radio dan televisi.

Meski udara sejuk  yang dirasakan pagi hari, tapi seiring selesainya upacara, sinar mentari pun mulai terasa menghangatkan para abdi negara itu. Beruntung, panitia menyiapkan sejumlah atraksi yang menghibur usai upacara berlangsung, yang  bisa dimaknai sebagai bentuk kebersamaan birokrat dan masyarakat. Hal itu sejalan dengan arahan Inspektur upacara bahwa aparatur negara harus melayani masyarakat, bukan lagi sebagai priyayi atau penguasa.

Reog Ponorogo, sebuah kesenian tradisional tampak mulai beraksi, begitu  upacara berakhir. Tidak tanggung-tanggung, tercatat sebanyak 76 grup, yang melibatkan 250 personil yang tergabung dalam Paguyuban Reog Ponorogo di bawah binaan Sri Rachma Chandrawati memanaskan kegembiraan abdi negara.

Bahkan Jokowi dan Ibu Negara Iriana dan sejumlah anggota Kabinet Kerja sempat menikmati atraksi kesenian tradisional yang sempat diklaim oleh negara tetangga, Malaysia. Akhirnya Reog menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang diakui oleh Unesco.

Hadirin juga dipukau oleh penampilan Marching Band dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Bandung, yang didatangkan khusus untuk memeriahkan HUT KORPRI ini.  Sekitar 200 personil terlibat dalam grup yang mengumandangkan sejumlah lagu perjuangan, dan beberapa lagu daerah.

Lagu Bengawan Solo dan Ampar-ampar pisang yang dikumandangkan oleh marching band itu juga sempat menyita perhatian pengunjung. Berbagai cara untuk menikmatinya. Ada yang mengikuti irama itu dengan menyuarakan liriknya, ada juga yang melambai-lambaikan tangan, dan tidak sedikit yang sekadar manggut-manggut.

Meski terlihat meriah, namun dalam acara HUT KORPRI kali ini tetap dibalut dengan nuansa kesederhanaan. Tidak terlihat adanya kue dan  buah impor. Yang ada cemilan khas Indonesia, seperti pisang rebus, kacang rebus, singkong dan lain-lain. “Selain berkomitmen untuk mengubah budaya priyayi menjadi birokrasi yang melayani sepenuh hati, pemerintah telah mencanangkan gerakan penghematan nasional,” ujar Menteri PANRB Yuddy Chrisnandi kepada wartawan usai upacara.

Untuk mengakselerasi pencapaian Visi Pemerintahan Kabinet Kerja, saat ini Kementerian PANRB tengah  memacu Gerakan Nasional Revolusi Mental ASN. Pemerintah  juga sudah menerbitkan tiga Surat Edaran (SE). Ketiga produk hukum itu adalah SE Menteri PANRB No. 10 Tahun 2014 tentang Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Kerja Aparatur Negara, SE Menteri PANRB No. 11 Tahun 2014 tentang Pembatasan Kegiatan Pertemuan/Rapat di Luar Kantor, serta SE Menteri PANRB No. 13 Tahun 2014 yang mengatur mengenai Gerakan Hidup Sederhana.

Yuddy menambahkan, bentuk nyata Gerakan Penghematan Nasional antara lain penghematan penggunaan sarana dan prasarana kerja (listrik, telepon, AC, air dll), penghematan penggunaan belanja barang dan belanja pegawai (perjalanan dinas, pembelian ATK, pengadaan kendaraan bermotor dll). Bahkan penyajian menu makanan tradisional dan buah-buahan produksi dalam negeri, serta optimalisasi penggunaan fasilitas kantor/negara  untuk rapat rapat kedinasan.

Adapun bentuk nyata dari Gerakan Hidup sederhana antara lain membatasi undangan dan yang hadir dalam resepsi tidak lebih dari 1000 orang /400 undangan, tidak memperlihatkan kemewahan, tidak memberikan karangan bunga, serta menghentikan publikasi advetorial ucapan selamat yang menggunakan biaya tinggi.

Selamat ulang tahun ke - 43 KORPRI. Jadikan ulang tahun ini sebagai momentum untuk melakukan revolusi mental, seiring dengan pelaksanaan reformasi birokrasi. *** [] - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru