Penguatan Karakter Kebangsaan Santri dan Pelajar

Mataram, 23/5_”Dunia remaja dan pelajar hingga saat ini masih tetap diwarnai tawuran, kriminalitas, kekerasan, pergaulan bebas, miras dan obat terlarang” tutur Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat Drs. H. Sulaiman Hamid, SH, MH pada acara diskusi public tentang penguatan karakter kebangsaan dan anti radikalisme teroris dikalangan pelajar se Pulau Lombok bertempat di Yayasan Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu Kabupaten Lombok Tengah.

 

Dikatakan, tingkah laku para pelajar kita lanjut H. Sulaiman Hamid, tentunya merupakan pertanyaan besar bagi kita semua ada apa dengan pendidikan generasi muda kita, disisi lain ada fakta bahwa remaja kita sesuai hasil survey lembaga swasta baru-baru ini, kebanyakan pelajar kita sudah melakukan kekerasan terkait isu agama dan moralitas yang menyebabkan idiologi radikal terorisme mendapat momentum untuk berkembang ditengah kondisi melemahnya semangat kebangsaan, munculnya pemahaman ajaran agama yang fanatic-sempit, melemahnya implementasi pendidikan kewarganegaraan serta tingginya angka kemiskinan.

 

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mencegah upaya penyebaran faham radikal terorisme di kalangan remaja dan untuk menggagas alternative penguatan karakter kebangsaan melalui kurikulum pendidikan dalam rangka menangkal pengaruh dan ancaman radikal terorisme dikalangan remaja dan pelajar.

 

Kegiatan diskusi public tentang penguatan karakter kebangsaan dan anti radikalisme teroris dikalangan pelajar se Pulau Lombok ini diikuti oleh pelajar dan santri di tingkat Sekolah Menengah Atas serta santri dari Pondok Pesantren sekitar berjumlah 100 orang pelajar dan santri dengan nara sumber dari Gubernur Nusa Tenggara Barat, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat, IAIN Mataram serta dari Yayasan Pompes Qomarul Huda Bagu.

 

Disamping mengharapkan output dan rekomendasi tercegahnya pengaruh dan ancaman radikalisme teroris dikalangan pelajar, juga dapatnya merumuskan gagasan alternative penguatan karakter kebangsaan melalui kurikulum pendidikan guna menangkal pengaruh dan ancaman radikalisme teroris dikalangan pelajar khususnya di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat. () -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru