Bappeda NTB Hadirkan Inspirator dari Pelosok

Desa selalu identik dengan kata-kata keterbelakangan, kemiskinan, dan sejenisnya. Padahal, segudang inovasi lahir dari desa. Desa menyimpan potensi yang cukup besar. Desa dengan kekayaan alamnya adalah potensi parawisata itu sendiri. Dari desa pula, terlahir BUMDes yang menjadi inspirasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi-potensi itu harus disulap sehingga kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan serta kemiskinan bisa dientaskan. Bahkan dari desa pula, terlahir pelopor-pelopor pengentasan kemiskinan.

Berbabagi potensi di desa mulai dilirik oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta pengentasan kemiskinan. Dari desa kemiskinan itu terjalin, dari desa pula kemiskinan itu diberantas. Dari pelosok kemiskinan itu muncul, dari pelosok pula kemiskinan itu dilawan. “Desa memiliki potensi pembangunan ekomoni yang cukup besar,” ungkap wakil Gubernur NTB, Muhammad Amin, pada saat pembukaan Rakor Penanggulangan Kemiskinan yang diadakan oleh Bappeda NTB, Selasa (5/9/2017) di Hotel Lombok Raya, Mataram.

Dalam rakor kali ini, Bappeda NTB memilih cara unik, yakni menghadirkan para inspirator dari berbagai pelosok desa. Bappeda NTB sengaja menghadirkan para inspirator tersebut untuk memotivasi sekaligus menginspirasi masyarakat NTB, karena memerangi angka kemiskinan itu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Mengurangi angka kemiskinan harus dilakukan secara berjamaah. “Mulai dari provinsi hingga tingkat desa dan dusun untuk bergerak bersama dan bersinergi dalam pelaksanaan  program pengentasan kemiskinan,  mulai dari lingkungan masing-masing,” lanjut orang nomor dua di NTB itu.

Selain inspirator dari pelosok, hadir pula akademisi, NGO, dan tokoh agama serta pelaku usaha yang ada di wilayah NTB. Para stakeholder tersebut diharapkan dapat membakar semangat masyarakat untuk melirik peluang-peluang yang ada di desa, sehingga dengan peluang-peluang tersebut kemiskinan dapat diatasi. Berbagai strategi diuraikan oleh para stakeholder tersebut. Mulai dari teori hingga praktik. “Mengurangi angka kemiskinan harus menyentuh kantong-kantong kemiskinan di desa, yaitu pada tingkat rumah tangga,” ungkap Prof. Sarjan, akademisi Unram yang menjadi salah satu narasumber dalam Rakor Penanggulan Kemiskinan tersebut. (HD)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru