Pemkab Dompu Kurangi Jatah Pupuk Subsidi

DOMPU, Kampung Media - Tindakan Pemerintah Kabupaten Dompu dalam mengurangi jatah pupuk subsidi hingga mendapatkan persetujuan dari Perusahaan Petrokimia hanya 40 persen ditahun 2017-2018 ini, rupanya memiliki alasan kuat. Pemkab Dompu menganggap masyarakat petani sudah sejahtera dan dipastikan akan mampu membeli pupuk non subisidi untuk kebutuhan tanaman jagung.

Saat ini, Pemkab Dompu sudah melayangkan permintaan pupuk nonsubsidi sebanyak 27 ribu ton yang nantinya akan dijual bebas (Free Market, red) dengan harga pasar. Hanya saja, jumlah tersebut nantinya akan ditentukan oleh Pemerintah Provinsi NTB yang selanjutnya menentukan jatah untuk setiap daerah Kabupaten Kota. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk di Kabupaten Dompu, awalnya Pemkab mengajukan kebutuhan pupuk mencapai 37 ribu ton. Namun, direalisasikan hanya sebesar 10 ribu ton saja.

"Maksud kami dalam mengurangi jatah pupuk subsidi dan meminta banyak jatah pupuk nonsubsidi, untuk mengantisipasi pemerintah tidak lagi mampu memenuhi pupuk subsidi untuk petani. Supaya nanti, petani bisa membeli pupuk dengan harga pasar karena kita asumsikan, petani kita ini sekarang sudah cukup mapan untuk membeli pupuk nonsubsidi," jelas Kabag Humas dan Protokol Setda Dompu, Ardiansyah, SE., Kamis (07/09/2017) pekan lalu.

Dikatakannya, pengurangan jatah pupuk subsidi untuk petani tidak terlalu dipersoalkan oleh petani, yang penting ketersediaan pupuk dipasar tetap ada untuk kebutuhan. Bahkan lanjutnya, akan lebih baik menggunakan pupuk non subsidi yang akan meningkatkan produksi jagung, ketimbang menggunakan pupuk subsidi dengan jumlah sedikit yang hanya mampu memproduksi jagung jauh lebih sedikit.

"Kalau kita lihat, dari pada produksi kita menurun karena pupuk, justru jauh lebih baik kita menggunakan pupuk yang dijual bebas. Akan jauh lebih baik produksinya karena banyak jenis pupuk, ketimbang kita tidak pupuk secara maksimal yang akan mengurangi produksi jagung," ujarnya.

Disinggung mengenai dampak terhadap harga jagung? Kabag Humas mengaku, harganya akan stabil bahkan akan jauh lebih tinggi dari harga yang sekarang yang mencapai Rp 4 ribu per kilogram. Dari itu kata dia, pemerintah tidak akan melepas controlan terhadap harga jagung dan akan tetap terus mengawasinya.

"Kita kejar pada produktifitas kita, kalau bisa harga itu bisa tetap seperti ini dan tahun depan bisa lebih tinggi lagi. Intinya, kebutuhan pupuk kita tetap terpenuhi," tegasnya. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru