Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional Alumni Al- Azhar Mesir resmi ditutup Presiden RI

Mataram - Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional Alumni Al- Azhar Mesir resmi ditutup oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center, Kamis (19/10/2017).


Gaung pemukulan Gendang Beleq oleh Kepala Negara Indonesia yang didampingi oleh Prof. Dr. Fadhiel El-Qoushi salah satu perwakilan WOAG serta Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr.TGH. M. Zainul Majdi, Prof. Dr. Quraish Sihab, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin dan Sekretaris Kabinet, Pramono Anung menandakan resminya Konferensi Internasional tersebut ditutup.

Konferensi Internasional yang bertemakan Moderasi Toleransi dan Orientasi Islam ini didukung penuh oleh Presiden RI. Orang nomor satu di negara ini juga menegaskan tentang pentingnya toleransi. ”Agar Moderasi, Toleransi dapat dipahami oleh anak muda Indonesia,” ungkapnya di depan para tamu undangan, ulama-ulama besar beserta ribuan santri.

Orang nomor satu di Negara ini juga mengapresiasi terhadap kiprah Universitas Al Azhar. “Universitas Al-Azhar merupakan Institusi besar dengan pemikiran-pemikiran yang besar,” imbuhnya.

Harapan disampaikan juga oleh Jokowi pada event ini berkaitan dengan hasil Konferensi Internasional yang digelar oleh alumni Al-Azhar dapat bermanfaat bagi Bangsa Indonesia.

Pada pidatonya, kebanggaan tersendiri disampaikan Jokowi tentang Indonesia. Diakuinya Setiap pertemuan dengan beberapa Kepala Negara, Jokowi selalu menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Secara persuasif di akhir pidatonya Jokowi menghimbau masyarakat khususnya untuk membangun perasaudaraan yang erat.

“Mari kita bersama–sama membangun ukhuwah islamiyah dan Wathaniyah serta Bashariyah,” ajaknya.

Pentingnya toleransi juga diungkapkan oleh Quraish Sihab. Salah satu petinggi Alumni Universitas AL-Azhar itu dengan tegas mengatakan pentingnya tolerasni, Quraish Sihab menghimbau alumninya di seluruh dunia untuk menghormati setiap kaum karena kedudukan sama sebagai warga negara. ”Menghormati semua pendapat walaupun tidak anda setujui pendapat itu selama bercirikan kedamaian,”ungkap.

(Nad_IKP)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru