Membangun Daerah Dengan Penguatan Keluarga

Menyambut Hari Keluarga Nasional atau Harganas ke 26 yang akan dilaksanakan di Bima, peran keluarga sebagai basis pembangunan sumber daya manusia memperhatikan aspek kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan keluarga atau ekonomi dalam mewujudkan keluarga NTB yang Gemilang. Pembangunan daerah dalam bingkai NTB Gemilang memiliki 52 program unggulan yang saling terkait. Termasuk dalam hal pengentasan kemiskinan, pendekatan keluarga dibutuhkan sebagai sasaran utama program agar dapat saling menguatkan dalam hal pendidikan, kesehatan maupun ekonomi secara mandiri.

 

Wakil Gubernur NTB. Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd pada sebuah kesempatan mengajak masyarakat untuk mulai merubah mindset dan mengedepankan pembangunan keluarga.

"Jika kita berpikir secara holistik, pembangunan keluarga sangatlah penting. Sepengetahuan saya, BKKBN Provinsi NTB memiliki sinergi yang sangat baik. Sinergi dengan seluruh stakeholders inilah yang menjadi poin penting agar menjadi satu kekuatan besar,” jelasnya.

 

"Membangun SDM tidak seperti membangun infrastruktur yang akan langsung terlihat hasilnya. Membangun SDM membutuhkan konsistensi, dan tekad yang berkelanjutan, harus konsisten," tambah Wagub. Dalam kesempatan ini Wagub juga berpesan agar konsistensi koordinasi dan sinergitas yang di bangun untuk senantiasa dijaga dan ditingkatkan.

"Konsistensi itu harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Ibu-ibu dalam organisasi juga memiliki peran yang luar biasa. Tidak mungkin birokrasi menjalankan perannya sendiri, stakeholders lain juga harus ikut bergotong royong, tentunya dengan perannya masing-masing. Harapan nya, sinergitas itu lebih tajam lagi,” harapnya.

 

Begitu pula dengan program unggulan lain seperti Generasi Emas yang berpusat pada penguatan keluarga sebagai unit terkecil penyiapan sumber daya manusia dalam hal pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Dalam upaya mengoptimalkan tumbuh kembang anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, maka dicanangkanlah “Program Generasi Emas NTB 2025” atau disebut juga GEN 2025. Penetapan program GEN 2025 ini didasarkan pada Peraturan Daerah No 7 tahun 2011 yang bertujuan untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan dan kesejahteraan perempuan, bayi dan anak. Selain misi Gemilang Kesehatan dan Pendidikan diatas adapula Gemilang Pembangunan Sosial Budaya yang diantaranya mengusung program unggulan Kota Layak Anak, Sekolah Perjumpaan dan  PAUD Holistik Integratif yang menyasar keluarga serta Gemilang Ekonomi, Pariwisata, Pertanian dan Industri yang diantaranya program unggulan Melawan Kemiskinan dari Desa dan Keluarga Sasambo Gemilang.

 

Pengentasan Kemiskinan Melalui Keluarga

Dalam hal penanganan kemiskinan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2019 – 2023, persoalan kemiskinan masuk dalam misi NTB SEJAHTERA DAN MANDIRI. Misi tersebut akan dilakukan melalui penanggulangan kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan pertumbuhan ekonomi inklusif bertumpu pada pertanian, pariwisata dan industrialisasi. Pasca bencana gempa, angka kemiskinan di NTB justru menurun.

 

Data resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) NTB bahwa jumlah penduduk miskin di NTB pada September sebanyak 735.620 jiwa atau berkurang 1.840 orang dibandingkan periode Maret 2018 sebanyak 734.780 orang.

Kepala BPS NTB Suntono mengatakan berkurangnya jumlah penduduk miskin tersebut sebagai dampak dari intervensi pemerintah pusat dan daerah melalui berbagai program.

Sejak 2009-2018, persentase penduduk miskin di NTB terus mengalami penurunan. BPS NTB mengklaim penurunan angka kemiskinan pada periode Maret 2017- September 2017 merupakan yang tertinggi sejak penghitungan angka kemiskinan dilakukan sebanyak dua kali setiap tahun mulai 2002.

"Alhamdulillah turun, tapi saya selalu katakan kita tidak boleh selalu terpaku hanya pada hal-hal kuantitatif, apa gunanya turun tapi kita tidak menjadi tuan rumah di tempat kita sendiri," ujar Gubernur NTB Dr Zulkieflimansyah dalam sebuah kesempatan. Zul menilai, penurunan angka kemiskinan seharusnya juga diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat. JIka merujuk pada misi dalam RPJMD pemerintah daerah maka penanggulangan kemiskinan tidak hanya bersifat sementara namun dibutuhkan program yang berkelanjutan.

 

Dalam Program Keluarga Sasambo Gemilang Program, Pemprov NTB menerapkan program serupa dengan keluarga harapan (PKH) yang dinilai efektif menekan angka kemiskinan. Sistemnya sama tapi dengan nama berbeda.

 

Kepala Dinas Sosial NTB Dra T Wismaningsih Drajadiah menjelaskan, program itu intinya bagaimana menangani kemiskinan dengan pendekatan keluarga. Mereka diberikan bantuan sosial dari APBD. Sasarannya adalah keluarga miskin yang tidak tertangani melalui PKH. ”Tapi dananya kita sesuaikan dengan kondisi daerah,” katanya.

Program itu terus dimatangkan. Baik dari sisi anggaran maupun data rumah tangga sangat miskin (RSTM) yang akan jadi sasaran bantuan. Pemprov rencananya akan mencoba mengintervensi 10 ribu RTSM di NTB. Kebutuhan dananya masih sedang dihitung.

 

Tahun lalu sempat diusulkan, namun karena dana kurang sehingga ditunda. Tahun ini akan kembali diusulkan karena penurunan angka kemiskinan menjadi salah satu prioritas pemerintah. ”Nanti kita lihat kemampuan anggaran daerah karena kita akan intervensi sampai ibu hamil dan balita,” ujarnya.

 

Anggota keluarga yang lain juga nanti dibantu melalui balai-balai sosial yang ada. Sehingga pemprov juga akan membangun komunikasi dengan dinas sosial setempat. Bahkan akan ada kerja sama dengan organisasi masyarakat (ormas) yang ada, misalnya untuk pembinaan pemuda. Pemuda yang tidak mampu diberikan pendidikan dan pelatihan.

Wismaningsih menjamin program itu tidak akan tumpang tindih dengan PKH. Program pusat tetap jalan, sementara bantuan yang tidak tercover akan ditangani daerah.

Tahun 2019, alokasi anggaran PKH secara nasional ditingkatkan dari Rp 19,2 trilliun menjadi Rp 34,4 trilliun. Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) semula mencakup 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM), tahun ini bertambah menjadi 15,6 juta KPM. Pada penyaluran PKH tahap pertama 2019, pusat sudah mencairkan Rp 385,7 miliar bagi 314.746 KPM se-NTB.

Sejatinya keberhasilan Pemerintah Provinsi NTB dalam mengurangi angka kemiskinan tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah.

 

Program Keluarga Sasambo Gemilang dapat memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin pada aspek pendapatan dan konsumsi atau kebutuhan dasar. Membeli kebutuhan pokok pangan yang berkualitas baik dan kebutuhan sekolah anak dengan harga yang murah. Dengan demikian kesehatan dan gizi keluarga lebih terjaga. KPM juga dapat membeli kebutuhan sekolah anak sehingga pendidikan anak lebih terperhatikan. Yang terpenting, anak tumbuh sehat dan terhindar dari gizi buruk.

 

Program Keluarga Sasambo Gemilang melalui para pendamping juga harus mampu mendorong perubahan pola pikir dan perilaku keluarga penerima manfaat untuk lebih memperhatikan pendidikan, kesehatan, kemandirian ekonomi keluarga. Untuk itu dbutuhkan komitmen dan kesungguhan penerima bantuan sosial untuk mengikuti program ini dengan baik sehingga kedepannya taraf hidup keluarga makin meningkat, lebih sejahtera dan dapat hidup mandiri.

 

Selain itu Program Keluarga Sasambo Gemilang membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam kerja-kerja sosial. Sekaligus membuka puluhan ribu lapangan pekerjaan sehingga berkah serta efektif memerangi kemiskinan karena memiliki indeks bantuan dan jangkauan yang luas agar hidup masyarakat makin cerah.

Gubernur NTB Dr H Zulkieflimansyah saat penyerahan PKH memotivasi para penerima bantuan yang belum mandiri agar terus berikhtiar dan bisa menjadi keluarga yang mandiri dan berharap ke depannya banyak penerima bantuan dari pemerintah bisa naik kelas menjadi keluarga yang mandiri. (dari berbagai sumber - jm tim media).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru