Poktan Selaparang Mataram Di Ajarkan Membuat Sate Jamur Tiram

Sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram akan ketersediaan luas lahan pertanian khsusunya sawah semakin hari semakin berkurang dan terbatas. Meskipun hal tersebut dalam alih fungsi lahan setiap tahun berkurang dengan pertumbuhan dan perkembangan perkotaan saat ini, namun kreatifitas penyuluh bersama ibu-ibu kelompoktani kecamatan Selarapang terus berupaya menyelaraskan akan perkembangan inovasi teknologi pertanian sesuai kebutuhan pertanian perkotaan saat ini khususnya dalam membantu meningkatkan nilai tambah dari hasil pertanian menjadi lebih tinggi. Karena alih fungsi lahan tersebut diikut sertakan dengan beralihnya komoditi lain yang disesuaikan dengan kondisi situasi.

Pertanian perkotaan lebih mengarahkan pada pemanfaatkan lahan semakimal mungkin dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti pertanian hidroponik, akuaponik, vertikultur, aquaphonik, mini wall gardening, komoditi hortikultura dengan polybag/pot dan budidaya jamur dan sebagainya.  Salah satunya yaitu budidya jamur tiram, dengan pemanfaatkan lahan sempit pada setiap halaman rumah. Budidaya jamur tiram dapat tumbuh dan berkembang dalam media yang terbuat dari serbuk kayu yang dikemas dalam kantong plastic. Pertumbuhan jamur tiram sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Alhasilpun sangat menjanjikan hasilnya, dalam penjualan jamur yang masih mentah belum diproses olah. Tetapi dengan sentuhan inovasi teknologi pengolahan hasil jamur menjadi produk olahan, maka hasilnyapun sangat pas untuk daerah perkotaan. Hal tersebut dilakukan oleh ibu-ibu kelompoktani Kecamatan Selaparang Kota Mataram Provinsi NTB, yaitu mengolah jamur tiram menjadi sate jamur tiram bumbu pelalah dan keripik jamur yang dipusatkan di BPP Kecamatan Selaparang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala BPP Kec. Selaparang Ir. Titin Suryati, dalam mendampingi peserta Kegiatan Peningkatan Kapasitas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tahun 2019 melatih ibu-ibu anggota kelompoktani dalam pengolahan hasil berupa pembuatan sate jamur tiram dan keripik jamur tiram  pada 19 september 2019 di BPP Kecamatan Selaparang.

Dengan melatih ibu-ibu kelompoktani tersebut, dapat memberikan nilai positif dalam meningkatkan nilai ekonomi jamur tiram dalam bentuk produk olahan jadi. Sehingga penjualan jamur tiram, bukan hanya produk jamur tiram yang masih mentah untuk dijual tetapi ibu-ibu bisa mengolah menjadi produk olahan jadi, dan harapan kedepannya ibu-ibu mampu berkrasi baik secara kelompok/swadaya membuat olahan yang berbahan baku dari jamur tiram sendiri ungkap Bu Titin sapaan

Dijelaskan pembuatan sate jamur teiram sangat mudah sekali. Adapun tatacara membuat jamur sate tiram bumbu pelalah. Menyiapkan bahan bakunya berupa 500 gram jamur tiram dipotong memanjang, bamboo/kayu tusuk sate, 100 garam bawang putih, 50 gram kelapa parut, 50 gram cabe rawit, 100 gram cabe besar kering, 200 gram kemiri, 4 bungkus penyedap makanan (royko), garam dan terasi secukupnya,


Kemudian tusuk jamur tiram yang telah dipotong tersebut ke dalam tusuk, rebus air secukupnya hingga mendidih yang dicampuri dengan bumbu rayko dan masuki jamur yang telah ditusuk tersebut remdah selama 5 menit dan tiriskan setelah itu di goring setengah matang. Semua bumbu yang ada dicuci bersihkan dan diblender hingga halus kemudian digoreng. Apabila bumbu sudah matang, maka taburi sate jamur tiram yang telah digoreng tersebut kemudian bakar hingga harum dan matang.

Sehingga dengan kreasi-kreasi inovasi kuiner yang bekembang khususnya dalam perpandukan makanan khas daerah perlu dilestarikan. Untuk dapat dimanfaatkan semaksimal dengan perkembangan jumlah penduduk yang terus bertambah, pengolahan hasil pertanian menjadi produk olahan jadi, sangat menjanjikan di daerah perkotaan

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru